Selasa, 10 April 2012

Suatu ketika sekitar 1950an dulu...

Gambar di atas dikatakan dirakam sekitar 1950an, menunjukkan bangunan pertama sekolah St.Peter Bundu Kuala Penyu. Hari ini tapak ini telah maju dengan binaan bangunan moden sekolah rendah dan sekolah menengah. Gambar lama macam ini amat nostalgia sekali. Pokok besar dibelakang rumah sekolah ini adalah pokok belunu. Jika tidak silap, pokok itu masih ada sampai hari ini.

Isnin, 9 April 2012

WONG FEI HUNG...


(Saya temui fakta ini melalui 'posting' rakan-rakan dalam dunia 'cyber'. Saya harap ini fakta yang benar. Jika tuan-tuan dapat memberi input dan berkongsi pengetahuan mengenai fakta ini, maka ini lebih elok. Perkara utama, ini bukan kajian atau tulisan saya sendiri.)

WONG FEI HUNG

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

Ahad, 1 April 2012

Kuala Penyu, Daerah Kelahiran..

Kuala Penyu buat pertama kalinya akan menjadi tuan rumah bagi acara pelancaran Pesta Kaamatan peringkat negeri Sabah bagi tahun 2012 ini. Acara pelancaran sambutan ini akan dilangsungkan pada 01 Mei 2012 bertempat di pekan Kuala Penyu. Tentunya pekan KP akan lebih meriah, lebih-lebih lagi dengan adanya jambatan sungai Setumpok yang mana pembukannya akan memudahkan lagi para pengunjung untuk datang keKP.  Datanglah ke KP untuk menyaksikan keindahan daerah tercinta ini disamping menikmati keramahan penduduknya yang terdiri daripada kaum Tatana, Bisaya dan Brunei. KP menyimpan banyak khazanah alam yang mendamaikan. 
Gambar di atas adalah Batu Luang. Dahulunya tempat ini adalah sebuah gua batu tepi pantai. Penduduk tempatan dahulu kala mempercayai tempat ini mempunyai penunggu dan percaya bahawa disini terdapat gua batu yang didalamnya tersimpan harta karun yang bernilai tinggi. Namun hari ini apabila tempat ini telah diruntuhkan untuk kerja-kerja pembinaan jalanraya, ternyata tiada sebarang gua batu seperti yang dinyatakan itu. Namun begitu agak menghairankan, mengapa dua rebung tanah ini gagal diruntuhkan oleh jentera moden yang digunakan meruntuhkan kawasan sekelilingnya? Istimewa, pokok kayu ara yang tumbuh di atas rebung tanah ini tetap utuh dan hidup subur walapun tumbuh atas batu. 30 tahun dulu ketika saya masih kecil dan pernah melewati kawasan ini beberapa kali, pokok kayu ara ini telah pun ada dan kekal sampai hari ini.

Deretan kedai baru yang telah dibina oleh pemilik  kedai asalnya yang mana bangunan lamamnya telah musnah dalam kebakaran puluhan tahun dulu.

Deretan kedai lama yang masih bertahan. Usianya sudah mencapai 100 tahun. Sebaiknya bangunan ini perlu diwartakan sebagai bangunan peninggalan sejarah.

Padang bola pekan KP. 25 tahun dulu, disinilah saya selalu datang menyaksikan perlawanan bola sepak tempatan. Waktu itu KP aktif dengan kejohanan bola sepak.

Feri KP yang beroperasi menyebarangi sungai setumpok .Sekarang feri ini hanya tinggal kenangan  setelah 20 tahun menabur bakti kepada penduduk KP.

(anda yang ingin berkunjung ke sini,saya boleh membawa anda datang ke sini dengan kos yang releven,boleh hubungi saya bila-bila.)

Jaringan Prihatin Masyarakat Kuala Penyu (PRIHATIN)

Visi:  Melahirkanv Masyarakt Yang Matang, Sehat Dan Berprestasi Baik Misi: Mengujudkan masyarakat yang bersatupadu Mengujudkan masyara...